
- Malang (Maret 2009) -
Hari Pertama - Perjalanan kami dimulai dari Desa Jurang Kuali (jalur menuju wisata pemandian air panas Cangar). Kami ber-10 (Kepak Elang: mR. oNTHoNK, odd_THiZ, SHY_poNE, iLP, d'BoGZ, p'NCHeNK, RoSSa, 'n gw ndiri (GoHM_baLL) ; WigaPala: ToMMy 'n paNdU) berangkat mulai sore. Di tengah perjalanan (masih di sekitar persawahan penduduk), kami bertemu dengan 3 pendaki laki-laki non-PA yang berasal dari luar Malang (ada yang dari Sidoarjo (tempat gw dibesarkan nih, hehehe.....)). Di tempat kami bertemu adalah batas akhir dari persawahan penduduk. Di sini terdapat mata air terakhir sebelum menuju lebih jauh, kami manfaatkan untuk memenuhi 5 liter jurigen kami. Akhirnya kami teruskan perjalanan.
Kami disambut oleh +-70 derajat jalur pendakian mulai dari mata air tadi. Setelah kami berjalan menanjak sekitar 20 menit akhirnya kami temui "BONUS" (begitu kami menyebutnya untuk jalur yang landai). Sore berganti petang, petang berganti malam..... Saat itu QTR 19.00, sayup-sayup masih terdengar suara adzan 'Isya mungkin dari kampung di bawah kami. Hampir tak terasa kami berjalan. Dari kejauhan juga terlihat jajaran G. Kawi meskipun tertutup pepohonan. Bermandikan cahaya bulan dan segarnya udara pegunungan membuat hati ini damai.....
Eh, GAWAT! Ternyata kami tersesat !!!!! "Mana jalurnya ?!", kami sering menanyakan itu pada kerabat kami yang pernah ke gunung ini (p'NCHeNK). Kamipun terus berjalan mengikuti jalur yang memang tidak jelas ke mana arahnya karena gelap dan bercabang-cabang. Akhirnya kami berhenti sejenak sambil mencari jalan keluar. Beberapa kerabat berusaha mencari jalan sementara lainnya menunggu. Akhirnya kami sepakat kembali ke jalan yang sepertinya tadi merupakan pertigaan. Kami lewat jalur satunya, dan..... Alhamdulillah,,,,, itulah jalur yang benar..... Di situ terdapat papan yang jelas tertulis "Puncak". Kenapa bisa kami tidak melihatnya. Berjalan di hutan yang lebat apalagi saat malam hari memang membuat kita jadi bingung arah. Hutan ini setelah gw cari referensinya ternyata masuk dalam kawasan Hutan Lali Jiwo yang banyak dikenal sering membuat para pendaki tersesat bahkan hilang itu. Jadi berhati-hatilah bagi anda yang ingin melintasi hutan ini saat malam hari, bukan bermaksud menakut-nakuti, tapi lebih baik anda bermalam daripada berjalan malam saat melintasi hutan ini untuk menghindari tersesat. Akhirnya kamipun memilih untuk bermalam karena waktu yang tidak memungkinkan (ada kode etik pendaki, yakni "Jangan bunuh sesuatu selain waktu", yang bermakna berpikirlah sebelum melakukan sesuatu saat mendaki, jangan gegabah. Tak apa berlama-lama, asalkan bisa sampai di tujuan dan kembali lagi dengan selamat).
Kami 'menidurkan' rumput di sekitar papan petunjuk bertuliskan "Puncak" tadi agar tenda kami dapat didirikan. Tak lupa kami juga menyiapkan minuman hangat dan makanan yang nikmat ala pendaki, hmmmmm, nikmat..... Setelah itu kamipun beristirahat agar bisa melanjutkan perjalanan esoknya.....
Hari ke-2, kami bangun molor (QTR 08.00), hehehe..... Setelah kami bangun, kami menyiapkan makanan dan minuman. Kerabat kami P'nchenk dan Tommy bersama seorang teman perjalanan non PA tadi kembali ke persawahan penduduk untuk mengisi jurigen lagi yang airnya telah kami gunakan tadi malam. Kegiatan memasak masih dilanjutkan. Sekitar 30 menit akhirnya kerabat kami dan teman perjalanan kami tadi telah kembali. melanjutkan kegiatan dengan makan bersama.
Kenyang dan siap beraksi !!!!!, kamipun packing tenda dan bawaan-bawaan kami.
QTR 10.00 kami melanjutkan perjalanan. Sekitar 1 jam kami melewati tempat bernama Watu Gede (emank bener koq, batunya lumayan besar juga, hehehe). Samar-samar kami sempat melihat hewan mungkin sejenis rusa di tengah perjalanan, ukurannya besar juga.
Seharian kami berjalan dan berjalan melewati jalur yang rimbun, terjal, maupun landai. Di tengah perjalanan kami ditemani oleh hujan yang tiba-tiba aja jatuh dari langit. Tak terasa saat itu sudah siang dan hujan belum reda. Sampai di persimpangan antara G. Arjuno dan G. Welirang, kami beristirahat sejenak sambil menikmati hangatnya minuman. Kami bangun tenda darurat menggunakan jas hujan dan terpal. Air hujan bisa kami manfaatkan sebagai stok tambahan air kami, hehehe.....
Setelah hujan reda kamipun melanjutkan perjalanan. Jalur ke kiri ke G. Welirang dan yang ke kanan adalah G. Arjuno. Karena sebelum mendaki kami sudah berkoordinasi untuk ke G. Arjuno dulu, tanpa disuruhpun kami ambil jalur kanan (ke G. Arjuno).
Sore hari telah tiba, kamipun tiba di tempat di kaki puncak G. Arjuno bernama Jurang Kuali. Dari sini kami sudah dapat melihat puncak G. Arjuno yang melancip pada atasnya.
Jurang Kuali merupakan savana/padang rumput yang tidak terlalu luas. Menurut kabar sih, katanya di sini (di padang rumputnya) dulunya merupakan pemakaman saat jaman penjajahan,,,,, hehehe, hmmmmm.....
Dari sini kami juga dapat melihat G. Kembar (bukan "gunung kembar" yang itu lho !!!!!) yang merupakan jajaran pegunungan Arjuno.
Di sini terdapat tempat bekas para pendaki sebelumnya untuk bermalam. Kami gunakan tempat itu untuk membangun tenda. Wuih, di sini kalo' malam dwingin juga, maklum kn padang rumput. Gw jadi inget Cikasur-nya G. Argopuro, hehehe.....
Setelah makan kamipun beristirahat.
Hari ke-3, kami bangun dan melanjutkannya dengan memasak. Ada yang berfoto-foto ria di padang rumput (termasuk gw, hihihi). Sekitar tengah padang rumput terdapat batu yang gwede. Bisa dijadiin objek foto-foto nih, hehehe..... Satu lagi kode etik pendaki, yakni "Jangan ambil sesuatu selain gambar", daripada mengambil sesuatu dari tempat yang seharusnya tak kita ambil, lebih baik kita foto-foto aja, ya nggak ?! :-)......
Setelah makan makanan dan minum minuman yang nikmatnya tiada tara, kamipun bersiap-siap melanjutkan perjalanan.
Ternyata di tempat ini sampahnya banyak juga. Mengingat kode etik pendaki yang satu lagi, yakni "Jangan meninggalkan sesuatu selain jejak", kami simpan sampah kami sendiri dan sampah sekitar yang memungkinkan untuk dibawa (dibawa keluar dari kawasan gunung). Tolong perhatikan kebersihan lingkungan donk..... Harap bawa kembali sampah yang anda buang, jangan kotori lingkungan kita.
Ada yang bersih-bersih dan ada siap-siap packing akhirnya kamipun siap melanjutkan perjalanan.
QTR 10.00 kami MENUJU PUNCAK !!!!! (koq kayak lagunya AFI aja, hwekekekekeke.....).
QTR 12.00 kami sampai di jalur utama menuju puncak yang TERRRJALLLLL (ngomongnya pake' logatnya Rhoma Irama, "TERRRLAAALUUU"). Bagi Superman silahkan bawa serta barang bawaan anda, tapi karena kami hanya manusia biasa, jadi kami tinggalkan dan sembunyikan barang-barang bawaan kami di semak-semak sekitar yang lumayan rimbun. Melanjutkan perjalanan dengan hanya membawa barang-barang seperlunya saja, kami langsung tembak puncak G. Arjuno.....
QTR 13.30 kami sampai di puncak..... "ALHAMDULILLAH !!!!!", syukur kupanjatkan kepadaNya..... Inilah kekuasaanNya..... Indah terlihat pemandangan dari puncak ini..... Betapa agung kebesaranNya.....
Di sini terlihat jajaran G. Kawi, G. Putri Tidur, G. Argopuro ! (sweet memories !!!!!), Pegunungan Tengger, dan..... G. Semeru !!!!! (oh, tujuan utamaku.....). Jika awan dan kabut tidak seperti saat itu, lautpun katanya bisa terlihat, bahkan katanya lumpur Lapindopun bisa terlihat..... Mungkin itu yang disayangkan. Tapi yang kudapat saat itu cukuplah sudah..... Indah sekali pemandangan dari sini menurutku.....
Oya, di sini juga terdapat batu besar tertinggi yang wujudnya menyerupai kursi. Katanya itu dulunya sih merupakan pertapaan Arjuno. Oleh mayarakat, batu tersebut dikeramatkan.....
Dan tak lupa pula, saat tiba di puncak kami sudah menemui banyak corat-coret yang "MENGHIASI" batu-batu di puncak..... Katanya PA, koq malah corat-coret ????? (PA= "Pecinta Alam" atau PA= "Perusak Alam" ?????). Menurutku ini perbuatan yang sangat tidak perlu, toh sapa tho yang kenal mereka, koq pake' tulis-tulis nama segala ?????
Setelah puas menghabiskan waktu di puncak sambil foto-foto dan menikmati pemandangan sambil makan kacang hijau dan minum kopi (hmmmmm.....), akhirnya kami turun.
Setelah sampai di bawah kaki puncak, kami mengambil lagi semua carrier kami.
Perjalanan selanjutnya adalah menuju G. Welirang. Perjalanan menuju G. Welirang, kami melewati rute lain dari saat kita berangkat tadi. QTR 17.00 sampe' di mata air. Kami manfaatkan untuk memenuhi semua jurigen kami yang isinya kurang dengan air. QTR 17.30 kami akhirnya sampai di pondok para penduduk yang bekerja sebagai penambang belerang. Teman seperjalanan kami tidak ikut menuju G. Welirang karena ada keperluan lain setelah turun gunung. Maka merekapun pulang.
Ke atas lahan pondok sedikit terdapat cukup lahan untuk tempat kami mendirikan tenda. Sungai di sini kalo' menurut kami kotor, gw saranin jangan ambil air untuk dikonsumsi di sini.
Malam semakin larut, kamipun istirahat.
Hari ke-4, kami bersiap melanjutkan perjalanan ke G. Welirang. Memasak, makan dan minum, lalu packing merupakan hal rutin yang harus dilakukan sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah siap, kamipun melanjutkan perjalanan. Sekitar 30 menit mendaki dengan jalur yang lumayan terjal (tidak terlalu terjal jika dibandingkan dengan jalur menuju puncak G. Arjuno), kami berencana menyembunyikan carrier-carrier kami lagi. Setelah menyembunyikannnya di sekitar semak-semak, kami melanjutkan perjalanan dengan hanya membawa barang seperlunya saja.
Perjalanan terus mendaki dengan sudut pendakian sekitar 45 derajat.
QTR 12.00 kami sempat terpisah karena kami berjalan per kelompok dengan sistem shift. Sekitar 1 jam gw dan beberapa rekan menunggu di dekat puncak, akhirnya kami bertemu lagi dengan rekan-rekan kami yang lain.
QTR 13.20 kami sampai di puncak G. Welirang..... Sayang pemandangan di sini putih-putih-putih..... Kabut yang tebal dan asap belerang G. Welirang yang menjadikan hal itu. Dinginnya juga, hm..... Padahal saat itu gw dan beberapa rekan tidak memakai jaket saat ke puncak G. Welirang..... Tapi karena bercampur dengan rasa gembira, rasa dingin itu menjadi hal yang tidak luar biasa bagi kami.....
Gambaran di puncak G. Welirang saat itu kurang jelas karena "putih"..... Yang jelas terlihat adalah kawah G. Welirang itu sendiri dan terdapat belerang di dalamnya.....
Papan penunjuk titik triangulasi (titik ketinggian pucak), tak lepas dari corat-coret tangan sebelum kami, hmmmmm..... Bener-bener deh.....
Setelah puas, kamipun langsung turun dan menjemput carrier kami. 4 orang rekan sampai duluan di tempat carrier untuk segera mengamankannya..... Rekan-rekan yang lain akhirnya tiba dan perjalanan turunpun kami lanjutkan.
Hari ini kami merencanakan untuk turun lewat jalur Tretes. Dan langsung kembali ke kampus.
Setelah melewati pondokan tempat kami bermalam pada hari ke-3, kami ambil jalur kiri menuju Tretes. Agak jauh setelah pondokan, perjalanan kami ditemani oleh jalan yang, hmmmmm, "SANGAT ENAK" karena jalur saat itu adalah jalur bebatuan dan kerikil yang lumyan tajam-tajam dan menusuk kaki. Kaki kami rasanya linu semua. Gw aja yang biasanya penyabar (?????emank iya?????) ampe' emosi menghadapi jalan yang seperti itu, wah-wah-wah.....
Katanya sih, nantinya jalur ini akan diaspal untuk dijadikan jalan raya agar truk atau mobil bisa sampai pondokan. Tujuannya mungkin untuk mempermudah akses pengangkutan belerang.
Setelah kaki kami tersiksa oleh ganasnya jalan saat itu, QTR 19.00 akhirnya kami sampai juga di gerbang pintu masuk jalur pendakian via Tretes. Alhamdulillah, hufffff, akhirnya.....
Kami menghubungi rekan senior kami untuk menjemput kami agar bisa kembali ke kampus. Kami bertemu di pos perijinan. Carrier kami diangkutkan jip senior kami, sedangkan kami naik angkutan umum.....
Ah,,,,, alhamdulillah..... Akhirnya sampe' juga di kampus dan bisa kembali ke hunian sementara kami masing-masing.....
Pengalaman saat itu, pengalaman tersesat di Hutan Lali Jiwo, pengalaman kedinginan di Jurang Kuali, melihat pemandangan yang indah selama di perjalanan maupun di puncak, nikmatnya makanan dan minuman ala pendaki, dan indahnya kebersamaan merupakan hal yang terasa "WAH" bagiku.....
Sekian.....
Hari Pertama - Perjalanan kami dimulai dari Desa Jurang Kuali (jalur menuju wisata pemandian air panas Cangar). Kami ber-10 (Kepak Elang: mR. oNTHoNK, odd_THiZ, SHY_poNE, iLP, d'BoGZ, p'NCHeNK, RoSSa, 'n gw ndiri (GoHM_baLL) ; WigaPala: ToMMy 'n paNdU) berangkat mulai sore. Di tengah perjalanan (masih di sekitar persawahan penduduk), kami bertemu dengan 3 pendaki laki-laki non-PA yang berasal dari luar Malang (ada yang dari Sidoarjo (tempat gw dibesarkan nih, hehehe.....)). Di tempat kami bertemu adalah batas akhir dari persawahan penduduk. Di sini terdapat mata air terakhir sebelum menuju lebih jauh, kami manfaatkan untuk memenuhi 5 liter jurigen kami. Akhirnya kami teruskan perjalanan.
Kami disambut oleh +-70 derajat jalur pendakian mulai dari mata air tadi. Setelah kami berjalan menanjak sekitar 20 menit akhirnya kami temui "BONUS" (begitu kami menyebutnya untuk jalur yang landai). Sore berganti petang, petang berganti malam..... Saat itu QTR 19.00, sayup-sayup masih terdengar suara adzan 'Isya mungkin dari kampung di bawah kami. Hampir tak terasa kami berjalan. Dari kejauhan juga terlihat jajaran G. Kawi meskipun tertutup pepohonan. Bermandikan cahaya bulan dan segarnya udara pegunungan membuat hati ini damai.....
Eh, GAWAT! Ternyata kami tersesat !!!!! "Mana jalurnya ?!", kami sering menanyakan itu pada kerabat kami yang pernah ke gunung ini (p'NCHeNK). Kamipun terus berjalan mengikuti jalur yang memang tidak jelas ke mana arahnya karena gelap dan bercabang-cabang. Akhirnya kami berhenti sejenak sambil mencari jalan keluar. Beberapa kerabat berusaha mencari jalan sementara lainnya menunggu. Akhirnya kami sepakat kembali ke jalan yang sepertinya tadi merupakan pertigaan. Kami lewat jalur satunya, dan..... Alhamdulillah,,,,, itulah jalur yang benar..... Di situ terdapat papan yang jelas tertulis "Puncak". Kenapa bisa kami tidak melihatnya. Berjalan di hutan yang lebat apalagi saat malam hari memang membuat kita jadi bingung arah. Hutan ini setelah gw cari referensinya ternyata masuk dalam kawasan Hutan Lali Jiwo yang banyak dikenal sering membuat para pendaki tersesat bahkan hilang itu. Jadi berhati-hatilah bagi anda yang ingin melintasi hutan ini saat malam hari, bukan bermaksud menakut-nakuti, tapi lebih baik anda bermalam daripada berjalan malam saat melintasi hutan ini untuk menghindari tersesat. Akhirnya kamipun memilih untuk bermalam karena waktu yang tidak memungkinkan (ada kode etik pendaki, yakni "Jangan bunuh sesuatu selain waktu", yang bermakna berpikirlah sebelum melakukan sesuatu saat mendaki, jangan gegabah. Tak apa berlama-lama, asalkan bisa sampai di tujuan dan kembali lagi dengan selamat).
Kami 'menidurkan' rumput di sekitar papan petunjuk bertuliskan "Puncak" tadi agar tenda kami dapat didirikan. Tak lupa kami juga menyiapkan minuman hangat dan makanan yang nikmat ala pendaki, hmmmmm, nikmat..... Setelah itu kamipun beristirahat agar bisa melanjutkan perjalanan esoknya.....
Hari ke-2, kami bangun molor (QTR 08.00), hehehe..... Setelah kami bangun, kami menyiapkan makanan dan minuman. Kerabat kami P'nchenk dan Tommy bersama seorang teman perjalanan non PA tadi kembali ke persawahan penduduk untuk mengisi jurigen lagi yang airnya telah kami gunakan tadi malam. Kegiatan memasak masih dilanjutkan. Sekitar 30 menit akhirnya kerabat kami dan teman perjalanan kami tadi telah kembali. melanjutkan kegiatan dengan makan bersama.
Kenyang dan siap beraksi !!!!!, kamipun packing tenda dan bawaan-bawaan kami.
QTR 10.00 kami melanjutkan perjalanan. Sekitar 1 jam kami melewati tempat bernama Watu Gede (emank bener koq, batunya lumayan besar juga, hehehe). Samar-samar kami sempat melihat hewan mungkin sejenis rusa di tengah perjalanan, ukurannya besar juga.
Seharian kami berjalan dan berjalan melewati jalur yang rimbun, terjal, maupun landai. Di tengah perjalanan kami ditemani oleh hujan yang tiba-tiba aja jatuh dari langit. Tak terasa saat itu sudah siang dan hujan belum reda. Sampai di persimpangan antara G. Arjuno dan G. Welirang, kami beristirahat sejenak sambil menikmati hangatnya minuman. Kami bangun tenda darurat menggunakan jas hujan dan terpal. Air hujan bisa kami manfaatkan sebagai stok tambahan air kami, hehehe.....
Setelah hujan reda kamipun melanjutkan perjalanan. Jalur ke kiri ke G. Welirang dan yang ke kanan adalah G. Arjuno. Karena sebelum mendaki kami sudah berkoordinasi untuk ke G. Arjuno dulu, tanpa disuruhpun kami ambil jalur kanan (ke G. Arjuno).
Sore hari telah tiba, kamipun tiba di tempat di kaki puncak G. Arjuno bernama Jurang Kuali. Dari sini kami sudah dapat melihat puncak G. Arjuno yang melancip pada atasnya.
Jurang Kuali merupakan savana/padang rumput yang tidak terlalu luas. Menurut kabar sih, katanya di sini (di padang rumputnya) dulunya merupakan pemakaman saat jaman penjajahan,,,,, hehehe, hmmmmm.....
Dari sini kami juga dapat melihat G. Kembar (bukan "gunung kembar" yang itu lho !!!!!) yang merupakan jajaran pegunungan Arjuno.
Di sini terdapat tempat bekas para pendaki sebelumnya untuk bermalam. Kami gunakan tempat itu untuk membangun tenda. Wuih, di sini kalo' malam dwingin juga, maklum kn padang rumput. Gw jadi inget Cikasur-nya G. Argopuro, hehehe.....
Setelah makan kamipun beristirahat.
Hari ke-3, kami bangun dan melanjutkannya dengan memasak. Ada yang berfoto-foto ria di padang rumput (termasuk gw, hihihi). Sekitar tengah padang rumput terdapat batu yang gwede. Bisa dijadiin objek foto-foto nih, hehehe..... Satu lagi kode etik pendaki, yakni "Jangan ambil sesuatu selain gambar", daripada mengambil sesuatu dari tempat yang seharusnya tak kita ambil, lebih baik kita foto-foto aja, ya nggak ?! :-)......
Setelah makan makanan dan minum minuman yang nikmatnya tiada tara, kamipun bersiap-siap melanjutkan perjalanan.
Ternyata di tempat ini sampahnya banyak juga. Mengingat kode etik pendaki yang satu lagi, yakni "Jangan meninggalkan sesuatu selain jejak", kami simpan sampah kami sendiri dan sampah sekitar yang memungkinkan untuk dibawa (dibawa keluar dari kawasan gunung). Tolong perhatikan kebersihan lingkungan donk..... Harap bawa kembali sampah yang anda buang, jangan kotori lingkungan kita.
Ada yang bersih-bersih dan ada siap-siap packing akhirnya kamipun siap melanjutkan perjalanan.
QTR 10.00 kami MENUJU PUNCAK !!!!! (koq kayak lagunya AFI aja, hwekekekekeke.....).
QTR 12.00 kami sampai di jalur utama menuju puncak yang TERRRJALLLLL (ngomongnya pake' logatnya Rhoma Irama, "TERRRLAAALUUU"). Bagi Superman silahkan bawa serta barang bawaan anda, tapi karena kami hanya manusia biasa, jadi kami tinggalkan dan sembunyikan barang-barang bawaan kami di semak-semak sekitar yang lumayan rimbun. Melanjutkan perjalanan dengan hanya membawa barang-barang seperlunya saja, kami langsung tembak puncak G. Arjuno.....
QTR 13.30 kami sampai di puncak..... "ALHAMDULILLAH !!!!!", syukur kupanjatkan kepadaNya..... Inilah kekuasaanNya..... Indah terlihat pemandangan dari puncak ini..... Betapa agung kebesaranNya.....
Di sini terlihat jajaran G. Kawi, G. Putri Tidur, G. Argopuro ! (sweet memories !!!!!), Pegunungan Tengger, dan..... G. Semeru !!!!! (oh, tujuan utamaku.....). Jika awan dan kabut tidak seperti saat itu, lautpun katanya bisa terlihat, bahkan katanya lumpur Lapindopun bisa terlihat..... Mungkin itu yang disayangkan. Tapi yang kudapat saat itu cukuplah sudah..... Indah sekali pemandangan dari sini menurutku.....
Oya, di sini juga terdapat batu besar tertinggi yang wujudnya menyerupai kursi. Katanya itu dulunya sih merupakan pertapaan Arjuno. Oleh mayarakat, batu tersebut dikeramatkan.....
Dan tak lupa pula, saat tiba di puncak kami sudah menemui banyak corat-coret yang "MENGHIASI" batu-batu di puncak..... Katanya PA, koq malah corat-coret ????? (PA= "Pecinta Alam" atau PA= "Perusak Alam" ?????). Menurutku ini perbuatan yang sangat tidak perlu, toh sapa tho yang kenal mereka, koq pake' tulis-tulis nama segala ?????
Setelah puas menghabiskan waktu di puncak sambil foto-foto dan menikmati pemandangan sambil makan kacang hijau dan minum kopi (hmmmmm.....), akhirnya kami turun.
Setelah sampai di bawah kaki puncak, kami mengambil lagi semua carrier kami.
Perjalanan selanjutnya adalah menuju G. Welirang. Perjalanan menuju G. Welirang, kami melewati rute lain dari saat kita berangkat tadi. QTR 17.00 sampe' di mata air. Kami manfaatkan untuk memenuhi semua jurigen kami yang isinya kurang dengan air. QTR 17.30 kami akhirnya sampai di pondok para penduduk yang bekerja sebagai penambang belerang. Teman seperjalanan kami tidak ikut menuju G. Welirang karena ada keperluan lain setelah turun gunung. Maka merekapun pulang.
Ke atas lahan pondok sedikit terdapat cukup lahan untuk tempat kami mendirikan tenda. Sungai di sini kalo' menurut kami kotor, gw saranin jangan ambil air untuk dikonsumsi di sini.
Malam semakin larut, kamipun istirahat.
Hari ke-4, kami bersiap melanjutkan perjalanan ke G. Welirang. Memasak, makan dan minum, lalu packing merupakan hal rutin yang harus dilakukan sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah siap, kamipun melanjutkan perjalanan. Sekitar 30 menit mendaki dengan jalur yang lumayan terjal (tidak terlalu terjal jika dibandingkan dengan jalur menuju puncak G. Arjuno), kami berencana menyembunyikan carrier-carrier kami lagi. Setelah menyembunyikannnya di sekitar semak-semak, kami melanjutkan perjalanan dengan hanya membawa barang seperlunya saja.
Perjalanan terus mendaki dengan sudut pendakian sekitar 45 derajat.
QTR 12.00 kami sempat terpisah karena kami berjalan per kelompok dengan sistem shift. Sekitar 1 jam gw dan beberapa rekan menunggu di dekat puncak, akhirnya kami bertemu lagi dengan rekan-rekan kami yang lain.
QTR 13.20 kami sampai di puncak G. Welirang..... Sayang pemandangan di sini putih-putih-putih..... Kabut yang tebal dan asap belerang G. Welirang yang menjadikan hal itu. Dinginnya juga, hm..... Padahal saat itu gw dan beberapa rekan tidak memakai jaket saat ke puncak G. Welirang..... Tapi karena bercampur dengan rasa gembira, rasa dingin itu menjadi hal yang tidak luar biasa bagi kami.....
Gambaran di puncak G. Welirang saat itu kurang jelas karena "putih"..... Yang jelas terlihat adalah kawah G. Welirang itu sendiri dan terdapat belerang di dalamnya.....
Papan penunjuk titik triangulasi (titik ketinggian pucak), tak lepas dari corat-coret tangan sebelum kami, hmmmmm..... Bener-bener deh.....
Setelah puas, kamipun langsung turun dan menjemput carrier kami. 4 orang rekan sampai duluan di tempat carrier untuk segera mengamankannya..... Rekan-rekan yang lain akhirnya tiba dan perjalanan turunpun kami lanjutkan.
Hari ini kami merencanakan untuk turun lewat jalur Tretes. Dan langsung kembali ke kampus.
Setelah melewati pondokan tempat kami bermalam pada hari ke-3, kami ambil jalur kiri menuju Tretes. Agak jauh setelah pondokan, perjalanan kami ditemani oleh jalan yang, hmmmmm, "SANGAT ENAK" karena jalur saat itu adalah jalur bebatuan dan kerikil yang lumyan tajam-tajam dan menusuk kaki. Kaki kami rasanya linu semua. Gw aja yang biasanya penyabar (?????emank iya?????) ampe' emosi menghadapi jalan yang seperti itu, wah-wah-wah.....
Katanya sih, nantinya jalur ini akan diaspal untuk dijadikan jalan raya agar truk atau mobil bisa sampai pondokan. Tujuannya mungkin untuk mempermudah akses pengangkutan belerang.
Setelah kaki kami tersiksa oleh ganasnya jalan saat itu, QTR 19.00 akhirnya kami sampai juga di gerbang pintu masuk jalur pendakian via Tretes. Alhamdulillah, hufffff, akhirnya.....
Kami menghubungi rekan senior kami untuk menjemput kami agar bisa kembali ke kampus. Kami bertemu di pos perijinan. Carrier kami diangkutkan jip senior kami, sedangkan kami naik angkutan umum.....
Ah,,,,, alhamdulillah..... Akhirnya sampe' juga di kampus dan bisa kembali ke hunian sementara kami masing-masing.....
Pengalaman saat itu, pengalaman tersesat di Hutan Lali Jiwo, pengalaman kedinginan di Jurang Kuali, melihat pemandangan yang indah selama di perjalanan maupun di puncak, nikmatnya makanan dan minuman ala pendaki, dan indahnya kebersamaan merupakan hal yang terasa "WAH" bagiku.....
Sekian.....
..... Click to Enlarge .....

Ki-ka: Dekat persawahan penduduk Desa Jurang Kuali; Puncak G. Arjuno; Puncak G. Welirang;
Menuju kaki puncak G. Arjuno; Dekat puncak G. Welirang.



No comments:
Post a Comment